.

Mengenai Saya

Foto saya
Klaten , Jawa Tengah, Indonesia
Suka ikutan kuis, lagi belajar nulis, narsis, kadang suka nangis.

Minggu, 15 Juni 2014

My Rapunzel (Dimuat di majalah HAI edisi 13 Edisi 31 Maret-06 April 2014)





Dimuat di majalah HAI edisi 13 Edisi 31 Maret - 06 April 2014

My Rapunzel
*Ayuni Adesty
        
            Hari ini hari terakhir MOS. Bagi gue ada enaknya, tapi ada nggak enaknya juga. Enaknya sih, gue bisa terbebas dari masa penjajahan kakak-kakak senior. Gue masih inget, waktu disuruh keliling lapangan sambil jongkok gara-gara buang sampah sembarangan. Emang gue akuin itu emang salah gue sih, tapi menurut gue tetap saja hukuman itu terlalu sadis! Malemnya gue sampai nggak bisa tidur, betis gue sakit dan pegel semua. Nggak enaknya adalah gue nggak bisa lagi pedekate sama si Winda. Dia itu satu grup sama gue pas MOS. Tapi sayangnya kita beda kelas meski sama-sama jurusan IPA. Ditambah lagi, kelasnya itu jauh banget sama kelas gue. Ibarat kutub utara dan kutub selatan.
             For me, she is my  Rapunzel. Why I called her My Rapunzel? Cewek manis yang satu ini emang punya rambut panjang sepinggang yang indah. Lurus, lebat, hitam dan berkilau. Pokoknya nggak kalah deh sama rambut model iklan shampo di tivi. She is preety, smart, cute! Cewek idaman gue banget! 
            ***
            Akhirnya gue hari ini pake seragam putih abu-abu. Bangga banget akhirnya bisa pake seragam ini. Jam enam pagi gue udah stand by  di depan kaca. Udah rapi, udah sarapan, udah ganteng! Eh, tapi kalau ganteng, alhamdulillah sih udah bawaan dari lahir. He … he …. Meski nggak bawa mobil keren atau mobil sedan mewah, gue dengan semangat empat lima bareng si Arbi berangkat ke sekolah. Oh, ya kenalin! Arbi itu sepeda fixie gue. He he, norak nggak sih ngasih nama ke sepeda? Tapi bagi gue Arbi itu udah kayak soulmate gue. Arbi itu hadiah ulang tahun dari almarhum bokap gue tiga tahun yang lalu.
            Tujuan gue bangun pagi-pagi, selain buat meminimalisir polusi udara, juga karena pengen ngecengen si Winda. Gue mau nungguin dia di depan gerbang sekolah. Karena menurut gue, itu adalah cara paling efektif buat pedekte sama dia. Gue nggak rela kalau My Rapunzel nanti digaet cowok lain.
            Kalau kata pepatah, pucuk dicinta ulam pun tiba! Pas gue masuk gerbang sekolah si Winda baru aja turun dari mobil.
            “Hai Winda ….” sapa gue sok kenal sok dekat. Niruin gaya manggil nama cewek di salah satu iklan.
            “Eh, Arman. Hai juga,” sapa Winda ramah. Bikin gue tambah jatuh cinta sama doi.
            “Eh, kamu tiap hari ke sekolah bawa sepeda?” tanyanya kemudian.
            “Yes. Bike to school!” jawab gue sambil nyengir kuda.
            “Oh, tapi keren kok. Oh, ya kenalin nih papa gue.”
            Yes! Aku bersorak dalam hati. Niatnya kan tadi cuma mau ngecengin si Winda, eh ini malah udah dikenalin sama papanya. Thanks God for today!
            “Arman, Om.” Gue mengulurkan tangan ke dalam mobil.
            “Oh, ya udah kalau gitu Om duluan, takut telat nyampe kantor.”
            Setelah papanya Winda pergi, aku menuntun si Arbi hingga ke parkiran. Berjalan bersisian sama My Rapunzel. Gue udah berasa kayak Galih dan Ratna.
            “Win, boleh minta alamat rumah nggak? Ntar Minggu sore rencananya gue mau main.”
            “Oh, boleh. Deket kok dari sini. Ntar gue smsin aja ya.”
            “Okelah kalau begitu. Eh, boleh ngajak si Arbi nggak?”
            “Siapa tuh Arbi? Satu sekolahan sama kita juga?”
            “Arbi itu nama sepeda gue. Akronim dari Ar-man bi-ke.”
            “Ha … ha…. Lo bisa aja. Iya  boleh-boleh.”
            Yes! Gue bersorak di parkiran. Dan kali ini nggak cuma di dalam hati, tangan gue refleks mengepal di depan dada. My Rapunzel sudah duluan pergi ke kelasnya. Nggak sia-sia perjuangan pedekate selama MOS kemarin biar bisa tukeran nomor hape.
            Dan hari yang gue tunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Gue menggoes si Arbi di Minggu sore yang cerah menuju rumah My Rapunzel . Pas gue nyampe alamat yang dismsin Winda, My Rapunzel udah duduk manis di depan teras sambil baca novel.
            “Hai, Rapunzel! Pangeran udah datang nih!” teriak gue dari pintu gerbang.
            “Norak ih! Mentang-mentang rambut gue panjang lo panggil-panggil Rapunzel.” Winda datang ke depan gerbang dan membuka gerbang.
            “He … he …. Mulai sekarang gue panggil lo Rapunzel aja ah!”
            “Lagian mana ada pangeran bawa sepeda?”
            “Lo mau gue datang naik kuda? Kereta kencana?”
            “Kan bisa naik andong, sama-sama naik kuda.”
            “Di Jakarta, mana ada andong, Non!”
            “Ha … ha ….” Kami tertawa bersama.
            Dan sore itu menjadi sore yang indah buat gue. Gue sama My Rapunzel muter-muter keliling kompleks naik sepeda. Rambut panjang Winda yang biasanya diiket, sore itu tergerai melambai-lambai tertiup angin sore.
            ***
            Hari ini hari pertama masuk ekskul. Tadinya gue mau milih ekskul yang sama dengan Winda. Tapi pasti dia milih ekskul masak atau nari, jadi gue mutusin buat masuk ekskul paskibra aja. Gue nggak jago basket, dan nggak terlalu suka fotografi.
            Sore itu seluruh siswa yang ikut ekskul paskibra sudah berbaris di lapangan. Hey! Bukannya itu My Rapunzel! Aku sampai mengucek-ngucek mataku karena tidak percaya dengan penglihatanku. Ke mana rambut panjangnya yang indah? Rambut panjang sepinggangnya kini hanya tersisa sebatas bawah telinga. Seusai latihan, gue hampiri si Winda yang sedang minum.
            “Win, lo masuk ekskul paskibra? Rambut lo ….” gue nggak nerusin kalimat gue.
            “Kenapa rambut gue? Lo jadi nggak bisa manggil Rapunzel lagi ya?”
            “Gue suka cewek yang rambutnya panjang,” gue keceplosan. “Eh, maksud gue …,” gue jadi salah tingkah. “Gue sebenarnya suka sama lo dari awal kita masuk MOS.” Sudah kepalang tanggung, akhirnya gue bilang aja perasaan gue yang sejujurnya.
            “Oh, berarti lo pedekate karena rambut gue panjang ya? Terus kalau rambut gue pendek, lo nggak suka lagi dong sama gue?”
            “Maybe you're not Rapunzel that I've been looking  for, but would you mind to be my Cinderella?” Kata gue sambil mengambil sepatu dari dalam tas ransel gue dan memberikan sepatu sebelah kiri milik Winda.
            “Ih, usil banget sih? Pantesan tadi pas gue cariin nggak ada. Ternyata lo yang ngumpetin! Yang sebelah lagi mana?”
            “Jawab dulu dong kalau lo juga suka sama gue.” Kata gue sambil mengerlingkan sebelah mata.
            “Ih, awas lo ya!” Winda siap siap mengejar gue. Dan sore itu kembali menjadi sore yang indah buat gue.
            ***
            -End-






Cerpen ini adalah cerpen perdana yang dimuat di majalah HAI. Rasanya seneng bingiiit!! Dua minggu sebelumnya dapat surat cinta dari redakurnya dan dikasih tahu tanggal terbitnya setelah menanti kurang lebih selama enam bulan. Pas terbit, aku dengan semangat empat lima ngapelin bapak lapak koran dan alhamdulillah ada cerpenku. Terbit sesuai jadwal yang diberitahukan. Biasanya sih bisa mundur atau maju. Setelah membayar Rp 15.000 majalahnya aku bawa pulang dengan hati berbunga-bunga. Amazing banget ngeliat ada namaku di cerpen itu lengkap dengan ilustrasi kecenya. Meski tulisan penulisnya kecil banget, tapi nggak papa deh. Tapi berharap lay out nama penulisnya lebih gedhe lagi. Ha ha
:D



Ini dia nih cover depannya, Hmm cowok banget ya?. Ada personil-personil band MY CHEMICAL ROMANCE. Karena HAI memang majalah cowok. 
 
Mau cerpennya dimuat juga seperti saya?      
Ayooo kirim juga ke alamat e mail Majalah HAI
cerpen_hai@yahoo.com


Naskah teenlit max 6000 cws (character with space) dengan tokoh utama cowok.



SURAT UNTUK BAPAK DARI ANANDA








Kota Hujan, 15 Juni 2014

Teruntuk Bapak

Assalamu’alaikum wr. wb.

Bagaimana kabar Bapak dan Ibu di sana? Semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah. Bulan ini genap sudah lima tahun Ananda merantau di kota orang untuk bekerja. Terima kasih atas kepercayaaan yang Bapak dan Ibu berikan kepada Ananda. Ananda berjanji akan menjaga kepercayaan itu..
Ananda bersyukur karena bisa bekerja di perantauan, sehingga bisa hidup mandiri dan tidak lagi menjadi beban. Meski di sisi lain, Ananda merasa rindu dengan keluarga dan kampung halaman. Pertemuan yang hanya dua kali setahun rasanya belum cukup untuk mengobati rindu, semoga surat ini bisa menjadi penawarnya. Waktu memang seperti kereta, begitu cepat. Tak terasa, seperempat abad sudah Ananda menjalani roda kehidupan. Dua puluh lima tahun yang lalu, Ananda lahir ke dunia. Takdirlah yang mempertumakan kita. Dan kini putrimu telah dewasa
Bapak, di usiamu yang sudah menginjak kepala enam, mungkin belum banyak yang Ananda berikan untuk membalas semua yang telah Bapak berikan. Masih jelas di ingatan, bagaiman kerasnya perjuangan Bapak untuk menafkahi keluarga. Kulit yang legam karena sengatan mentari menjadi saksi bagaimana tangan kokohmu harus mengayunkan cangkul untuk menggarap sawah. Pada bulir-bulir padi yang kau tanam dan kau rawat itulah kau menggantungkan harapan. Tak ada baju dinas berdasi yang Bapak kenakan saat bekerja, hanya topi, kaos dan celana panjang yang digulung hingga dengkul. Tak ada motor atau mobil mewah yang mengantarmu, hanya sepeda ontel tua yang kau kayuh. Tapi Ananda tetap bangga dengan semua itu.
Tak ada teriakan atau bentakan yang melekat di ingatan. Tak ada pukulan atau jeweran di telinga. Seingatku, bahkan bapak tak pernah marah. Jika Bapak diam, itu artinya Bapak sedang marah. Bukankah beegitu? Ananda juga bersyukur Bapak tidak merokok, meski Kakek seorang perokok aktif. Karena dengan tidak merokok, Ananda tidak perlu terlalu khawatir dengan kesehatan Bapak.
Banyak yang Ananda pelajari dari Bapak. Selain menjadi ayah yang baik, bapak juga adalah sosok suami yang baik. Bapak tidak pernah mengeluh. Bapak juga tidak pernah mencela makanan, selalu menyantap apa yang Ibu masak. Mau membantu pekerjaan rumah. Bahkan Bapak juga tak segan-segan menjahitkan baju Ibu yang robek. Ananda berdoa semoga Ananda kelak mendapatkan suami seperti Bapak. Mungkin benar kata pepatah “Dad is a daugther's first love” Bapak adalah cinta pertama Ananda sebelum Ananda jatuh cinta kepada laki-laki lain.
Hari ini adalah Hari Ayah Sedunia, Ananda ucapkan “Selamat Hari Ayah Se-dunia”. Terima kasih, atas kerja keras, kasih sayang, doa, keringat dan nasihat yang telah Bapak berikan untuk Ananda. Maaf jika Ananda pernah membuat Bapak kecewa atau berbuat salah. Ananda bangga kepada Bapak. Semoga Ananda bisa menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan orang tua. Peluk dan cium dari Ananda untuk Bapak dan Ibu tercinta.

Wassalamu’alaikum wr. wb.


*Surat ini ditulis untuk mengikuti sayembara SURAT UNTUK BAPAK yang diadakan GAGAS MEDIA untuk memperingati International Father's Day

Ini dia fotoku bersama Bapak. Diambil saat hari Idul Fitri tahhun 2013. Mirip kan? Like father, like daughter. :)








Senin, 10 Maret 2014

LUKISAN UNTUK PUTRI



 *Ayuni Adesty

Hari ini adalah hari kelulusan. Aku ingin menggunakan moment ini untuk memeberi hadiah untuk Putri. Sebuah lukisan wajah sederhana yang kubuat sendiri. Apalagi setelah ini aku tidak bisa lagi maen basket bersama, atau bersepeda keliling komplek. Tak bisa lagi menjailinya, melihat senyum dengan lesung pipi di sebelah pipi kanan Putri. Aku merasa sangat kehilangan. Aku coba mencari-cari sosoknya. Tapi nihil. Aku pergi ke rumahnya, tapi sudah terlambat. Rumahnya sudah kosong.

“Putra!” panggil Tante Wina tetangga sebelah Putri.
“Keluarga Putri hari ini sudah pindah, Tan?” tanyaku memastikan.
“Iya. Tadi pagi. Keberangkatannya dimajukan. Tadi Putri titip surat buat kamu.”
Kuterima surat itu, sebuah surat perpisahan. Kubuka dan kubaca tulisan tangan Putri yang rapi.


To: Putra Adrian
Maaf nggak bisa pamitan langsung. Ada perubahan mendadak. Lagi pula kalau aku pamitan langsung mungkin aku akan nangis. Aku sebenernya berat ninggalin kamu. Kebersamaan dan persahabatan kita sejak kecil adalah kenangan yang akan kubawa.
Tapi sebenernya aku ingin lebih dari sekedar sahabat untukmu. Ah! Aku konyol ya? tentu saja kau akan lebih memilih Siska untuk kau jadikan kekasihmu. Dia adalah tipe cewek yang anggun dan feminin. Aku nggak tahu kapan aku mulai memiliki rasa cinta untukmu. Rasa sayang dan perhatianku telah berubah. Aku juga cemburu kalau kamu jalan bareng sama Siska.

Aku sudah jatuh cinta sama kamu.

Sekali lagi terima kasih. Terima kasih sudah mau melukis warna pelangi di bawah rintik hujan bersamaku.

Putri Amelia

Aku tersenyum membaca surat dari Putri.
“Dasar bodoh! Apa kamu nggak tahu kalau aku ingin menjadi pangeran di hatimu?” aku bicara sendiri.
Kupandangi lukisan yang sudah terbungkus rapi. Ada kartu ucapan bentuk hati.
To: Putri Amelia
~with love ~
***

Minggu, 02 Maret 2014

Pre Wedding Rush Perfect Shoes Contest







Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Pre Wedding Rush Perfect Shoes Contest berhadiah voucher belanja dari Wondershoe dan paket buku dari Stiletto Book. Kalau mau ikutan, detilnya lihat di : http://blog.sepatumerah.net/2014/02/tags-berhadiah-pre-wedding-rush-perfect-shoes-contest/

Mbak Okke ini kayaknya shoes-lover deh! Nama penanya aja Okke “Sepatumerah”. Terus bukti lainnya adalah sampe ngadain giveaway buat milihin sepatu yang cocok untuk toko-tokoh di novel  PreWedding Rush karyanya. He he …

*Pertama, sepatu yang cocok buat
 Menina adalah : FLAT SHOES




Sepatu tanpa hak (datar) alias flat shoes ini yang cocok buat Menina. Flat shoes itu mencerminkan kepribadian Menina yang sederhana dan anggun. Hmm ... tapi karena nggak ada haknya, jadi mungkin kesannya memang kurang tegas. Sama kayak Menina yang sempat galau milih Lanang atau Dewo. Terus kenapa saya pilihkan warna merah? Soalnya, menurut saya Menina itu sosok yang penuh tantangan, bebas, dan berani. Salah satunya adalah berani ngambil resiko bertemu mantan, Lanang. Padahal pernikahannya dengan Dewo sudah di depan mata. Flat shoes memberi kenyamanan bagi si pemakai. Sama kayak sifat Menina yang memang mencari kenyamanan pada pasangannya. Dan begitu juga sebaliknya, berada di dekat Menina juga pasti merasa nyaman. Pecinta flat shoes biasanya tidak pernah ambil pusing dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan dan lebih memilih untuk membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya. Terus biasanya cukup sensitif, apabila menyangkut masalah hati. Emang bener! Menina kan emang gitu. Tapi sisi positif dari penyuka flat shoes adalah mempunyai kepribadian yang aktif, enerjik dan mandiri.


*Kedua,sepatu yang cocok buat Lanang adalah : SNEAKERS



Sneakers adalah sepatu yang cocok untuk Lanang. Sepatu ini merefleksikan pribadi yang memiliki jiwa petualang, gemar melakukan hal–hal yang cukup ekstrim, senang bersosialisasi dan merasa nyaman apabila dikelilingi oleh orang yang mencintai dan menghormatinya. Menyukai spontanitas, makannya nggak heran kalau tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan Lanang meminta bertemu dengan Menina setelah sekian lama hilang komunikasi. Kepribadian sepatu jenis ini hampir-hampir mirip dengan penyuka flat shoes. Makanya nggak heran kalau Menina dan Lanang punya banyak kesamaan.

*Ketiga,sepatu yang cocok buat Dewo adalah : LOAFER




Loafer/ Slip On (mungkin dibilang slip on, karena cara pakainya yang langsung “slip”, sudah “on” terpasang. :D) Model sepatu ini tidak menggunakan tali maupun strap untuk mengencangkan sepatunya. Jenis sepatu yang biasanya dipakai executive muda itu lho! Yang disemir hitam sampai kinclong! Sepatu ini emang terkesan formal banget. Dewo yang dewasa dan terkesan kaku pas banget pake sepatu ini. Masa depannya cerah sekinclong sepatuini. *LOL
Meski polos tanpa aksen apapun sepatu hitam ini terlihat elegan. Sama seperti Dewo yang nggak suka neko-neko. Seperti sepatu  loafer yang terlihat sempurna ini, Dewo adalah sosok pria sempurna dari luar. Tapi padahal hatinya itu lembut dan rapuh. Gimana nggak sakit hati coba,kalau tunangannya masih dihantui bayang-bayang sang mantan yaitu, Lanang. *uhuk


*Keempat, sepatu untuk Sigitadalah: OXFORD (BALMORAL)


Sigit Cuma peran pembantu sih. Tapi bukan supir lho! *ditimpuk
Sigit adalah teman Lanang, mantan suami dari Ayako. Sepatu model oxford menggunakan tali untukmengencangkan sepatu, tapi tidak sampai ujung depannya. Kepribadian dari pemakai sepatu jenis loafer biasanya introvert dan lebih memilih untuk diam atau menutup diri meskipun sedang dilanda masalah yang cukup berat. Cukup hati–hati dalam memilih teman. Di sisilain, ada sifat ambisius. Kayaknya pribadi ini emang ga cocok sama pecinta stiletto, nggak heran kalau akhirnya hubungan mereka berakhir dengan perceraian.


*Terakhir,sepatu untuk Ayako adalah: STILETTO


Sepatu berhak tinggi (yang juga merupakan icon dari Penerbit Stiletto) ini cocok buat Ayako. Meskipun terasa menyiksa, banyak perempuan yang tidak jera untuk memakai sepatu ini. Yups! Nggak jauh beda sama tokoh Ayako yang berani ambil resiko menjalin hubungan spesial dengan  Lanang. Stiletto memberi kesan seksi, menggoda. Pas banget sama dia yang keganjenan ngejar-ngejar Lanang. Pecinta stiletto dikenal sebagai pribadi yang kuat, senang menjadi pusat perhatian dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Dia tidak akan berhenti melakukan sesuatu yang dianggapnya benar dan tidak suka ‘berurusan’ dengan orang lain. Makannya si Ayako cuek-cuek aja selingkuh sama Lanang, yang notabene adalah teman dari mantan suaminya, Sigit.



Waaah ....!!! Seru juga ya milih-milih sepatu buat para tokoh di novel Pre Wedding Rush.Mau ikut seru-seruan milih sepatu buat mereka juga?Ikutan juga yuk! Siapa tahu dapat hadiah.